salam

Rabu, 08 Juni 2011

Yang Tetap dan Yang Bisa Berubah


Seorang syeikh mengingatkan muridnya bahwa dakwah harus terus berlangsung dan tidak boleh berhenti sedikit pun meski wadahnya sebagai media aspirasi perjuangannya dibubarkan pemerintah setempat. “Sekalipun wadah kita bubar, aktivitas dakwah kita tidak boleh bubar dan tidak bisa dibubarkan”, demikian penegasan syeikh tersebut.
Kalimat itu menghentakkan kesadaran muridnya akan kewajiban mereka untuk senantiasa berdakwah dengan berbagai kondisi dan keadaan. Bukan malah bingung untuk melakukan sesuatu lantaran wadahnya sudah dibubarkan. Karena hakikat asasiyat bagi aktivis adalah berdakwah untuk memberikan kontribusi amal shalih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Suatu keadaan pahit sering kali membuat orang sock dan berat menerimanya. Meski pun kenyataan berat seperti itu sangat manusiawi. Akan tetapi sebagai aktivis dakwah selayaknya tidak berada pada titik keadaan tersebut. Namun hendaknya menyikapi situasi tersebut dengan berpegang pada dhawabith (patokan-patokan) yang jelas dalam amal dakwah ini. Sehingga tidak kehilangan keseimbangan ketika berada di dalamnya. Melalui patokan itu kita dapat melangkahkan kaki bersama dakwah dengan gegap tanpa ragu dan bingung.
Dhawabit ini akan memandu ke arah mana jalan yang harus ditempuh dan menjadi rambu yang akan memberitahu apa yang mesti dilakukannya.

Dakwah aktivitas yang harus langgeng

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Keterikatan aktivis terhadap dakwah tidak boleh mengalami penurunan dalam situasi yang terjepit sekalipun. Akan tetapi peningkatan dan pengokohanlah yang mesti dilakukan mereka. Bersama dakwah prinsip hidup mukmin terus terjaga, komitmen kepada Islam semakin kuat. Sebaliknya tanpa bersama dakwah jurang menganga selalu di hadapan dan bahaya senantiasa mengancam. Bahkan yang perlu kita camkan adalah tanpa kesertaan dakwah eksistensi kita dalam barisan itu akan tergantikan oleh mereka yang lebih baik kesertaannya daripada diri kita. Dalam keadaan bahaya sekalipun keterlibatan diri terhadap dakwah harus langgeng apalagi dalam keadaan tenang. Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa Islam adalah roda yang berputar maka berputarlah bersama Islam bagaimanapun putarannya. Ucapan beliau ini menegaskan bahwa aktivis dakwah harus selalu menyertainya dalam setiap keadaan karena kesertaan yang lemah menjadi sebab untuk diganti dengan orang lain yang lebih baik.
“………jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain dan mereka tidak seperti (kualitas) kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)

Tarbiyah mesti tetap berjalan

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Tarbiyah sebagai sarana pembentukan diri bagi aktivis tidak boleh kendur dan macet dalam kondisi apapun. Dan mereka yang berada dalam barisan dakwah mentarbiyah diri menjadi aktivitas yang mesti berjalan tidak mandeg dan berhenti sejenakpun. Karena tarbiyah merupakan titik tolak bagi aktivis dalam membina diri menuju kepribadian muslim shalih mushlih. Apalagi iklim yang terjadi di sekitarnya sangat berperan menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita mulia tersebut. Tikungan-tikungan tajam yang berbahaya berada di kiri dan kanan jalan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang terjal. Maka tarbiyah sebagai jawaban untuk membina diri bagi aktivis dalam menghadapi keadaan tersebut harus tetap berjalan.
Kemandegan tarbiyah dapat berpengaruh pada ketahanan mental dan ma’nawiyah aktivis yang melemah. Kelemahan ini terkadang menjadi sebab dari berbagai problematika aktivis baik skala personal maupun sosial. Oleh sebab itu tarbiyah dalam situasi apapun harus terus berjalan. Bila ia mendapatkan rintangan dari kiri ia harus memutar haluan dengan cepat ke kanan. Begitu juga bila ada gangguan dari sebelah kanan ia pun harus menyikapinya dengan cepat berbelok ke kiri. Artinya meskipun banyak yang menghalangi, tarbiyah harus terus bergulir dari berbagai arah sehingga ia selalu mengalir dengan lancar.    

Berjamaah suatu keharusan

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Banyak kita temukan keterangan dalam Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan bahwa berjamaah merupakan suatu keharusan untuk setiap muslim. Dengan berjamaah kita dapat keberkahan yang melimpah. Yang lemah akan kuat, yang kurang akan mendapatkan tambahan, yang menyimpang akan terluruskan dan kebaikan lainnya. Karena itu berjamaah menjadi kebutuhan yang asasi bagi aktivis. Ia akan mampu menghadapi segala keadaan dengan berjamaah. Keberadaannya dalam jamaah ini tentu bukan sekadar hadir di dalamnya melainkan ia aktif dan terlibat penuh dengan berbagai aktivitasnya. Dengan sikap begitu ia akan merasakan keberadaan jamaah pada dirinya.
Allah SWT. memandang orang mukmin selalu berjamaah sebagaimana shighat dalam nash qur’an. Hal ini sekaligus untuk menyuruh orang-orang mukmin dalam keadaan berjamaah. Orang yang infiradi berpeluang mendapatkan mara bahaya. Apalagi dalam situasi yang terjepit dan sulit. Bukankah Rasulullah SAW. telah bersabda agar kita terikat pada jamaah meskipun harus menggenggam bara api. 

Peran Qiyadah dan Jundiyah

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Peran Qiyadah dalam hal ini adalah menetapkan suatu kebijakan yang akan menjadi arahan dan patokan yang jelas bagi prajuritnya.  Kebijakan tersebut untuk dilaksanakan oleh bawahannya secara cepat dan tepat. Dalam situasi yang pelik seorang pemimpin tidak boleh lambat dalam mengambil suatu keputusan. Keputusan yang lambat dapat membawa kekeliruan dalam menyikapinya. Keliru dalam menyikapi suatu keadaan akan berakibat fatal bagi perjalanan dakwah. Namun keputusan yang cepat tidak berarti asal ditetapkan sebagai sebuah keputusan melainkan berasal dari pemikiran dan perhitungan yang tajam akan keputusan tersebut.
Di samping itu, peran qiyadah adalah untuk memberikan arahan dan taujihat yang sangat dibutuhkan prajuritnya. Taujihat yang tepat dan mengena dari qiyadah menjadi cucuran air hujan di musim kemarau. Prajurit yang aktif memerlukan arahan apalagi setelah letih melakukan operasional kerja besar.
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga diri”. (QS At Taubah: 122)
Sedangkan peran jundiyah maksudnya ialah bersikap sigap dan patuh dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Sikap yang selalu melekat pada setiap prajurit. Bukan sikap ngambek, mutung, apalagi patah semangat dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Prajurit yang baik adalah mereka yang selalu berusaha maksimal dalam menjalani tugasnya. Ditugaskan di barisan terdepan ia akan berada pada posisinya. Ditempatkan di bagian belakang ia selalu menunaikannya. Diperintahkan ia laksanakan dengan segera. Sebaliknya prajurit yang diam terpaku dan termenung menghadapi tugasnya akan memperlambat kerja dan tugasnya. Bahkan akan berakibat buruk bagi keseluruhannya.
Nama, bentuk, mekanisme dan prosedural administrasi mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Dalam  perjalanan dakwah dan harakah ada hal-hal yang dapat berubah. Perubahan ini dapat terjadi karena situasi dan kondisi yang berkembang di sekitarnya. Perubahan tersebut asal tidak merubah prinsip dan arah harakah dakwah ini melainkan sebagai upaya untuk tetap melanggengkan perjalanannya. Perubahan itu dapat meliputi perubahan nama, bentuk, mekanisme dan prosedural. Perubahan nama merupakan sesuatu yang biasa dalam dinamika dakwah dan pergerakannya. Perubahan nama dapat terjadi beberapa kali. Hal ini terjadi karena faktor yang tidak dapat memunculkan nama  lamanya sehingga perlu menampilkan diri dengan nama barunya. Perubahan bentuk juga mungkin dapat terjadi hingga beberapa kali untuk dapat diterima masyarakat luas sehingga perjalanannya tetap berkesinambungan. Semua perubahan itu sangat mungkin dapat terjadi, karenanya aktivis dakwah tidak boleh mengalami sock yang berkepanjangan lantaran hal itu. Perubahan-perubahan itu adalah bahagian dari dinamika perjalanan sunnah dakwah dari masa ke masa. 


3:144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

(afwan catatan taujih ini ndak tau penulisnya, semoga menjadikan sebagi amal yang senantiasa terus mengalir....amin,)

Selasa, 07 Juni 2011

Ikhlaskah saya?


“…dan tidaklah kalian diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas…….” (QS 98:5).
Ikhwan wa akhawat fillah, telah kita ketahui bersama bahwa syarat diterimanya amal adalah benar dan ikhlas. Benar mencontoh Rasulullah, ikhlas ditujukan semata untuk mencari keridhaan Allah. Kedua syarat itu tentunya mesti mengiringi setiap amal yang kita lakukan agar kita layak memperoleh surga Allah nanti di yaumil akhir.
Berbicara tentang ikhlas ada tiga ciri keikhlasan yang perlu kita tahu. Pertama memiliki perasaan sama bila dipuji atau dicela. Tidak bangga atau gembira ketika dipuji dan tidak jengkel atau marah ketika dicela. Kedua tidak merasa berjasa atau berprestasi dengan amalnya. “Karena sayalah Islam semerbak di  kecamatan ini, dan sayalah yang pertama merintis pembinaan di kampus itu”, adalah contoh ketidakikhlasan. Ketiga mengharapkan pahala amal itu di akhirat, tidak di dunia,  … “in ajriya illa ‘alalladzii fatharani, sesungguhnya upah kami adalah dari Allah yang menciptakan kami…” (QS 11:51).
Berikut ini sejumlah ilustrasi yang mungkin dapat memantapkan azam kita untuk selalu ikhlas dalam beramal.
Kisah pertama. Seorang Arab Badui, tidak disebut namanya, datang kepada Rasulullah kemudian beriman mengikuti Rasul dan meminta untuk ikut hijrah sampai akhirnya ikut Perang Khaibar. Pada saat pembagian ghanimah dia berkomentar “apa ini”? sahabat menjawab “jatah kamu yang telah disiapkan Rasulullah”, “aku ikut kamu ya Rasul bukan karena ini, tapi aku ingin leherku tertusuk anak panah, aku mati dan aku masuk surga”. Kemudian terjadi perang lagi dan sahabat Arab Badui ini ikut berperang dan terbunuh, lehernya terkena anak panah. Pada saat itu jasadnya dibawa kepada Rasulullah.
Rasul menyolatkannya dan berdoa “ya Allah ini seorang hambamu keluar berhijrah di jalanmu kemudian terbunuh mati syahid dan aku menjadi saksi baginya.
Kisah kedua. Ada kisah populer yang disebut Shahibun Naqab, tentang seorang prajurit di waktu peperangan di masa Umayyah yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik. Ketika terjadi pengepungan sebuah benteng musuh tak ada satupun sahabat yang berhasil membuka benteng itu. Dalam kesempatan itulah prajurit ini masuk dengan melubangi tembok benteng (maka disebut naqab artinya lubang). Lewat lubang yang dia buat itulah tentara Islam bisa mengalahkan musuh. Sehabis peperangan Maslamah meminta agar tentara yang melubangi tembok melapor padanya. Setelah sekian lama tidak ada yang melapor, akhirnya datanglah seorang bertopeng menemui Maslamah. “Aku akan beritahu siapa tentara yang melubangi benteng itu, dengan syarat: pertama, jangan tanya siapa namanya, kedua jangan dicatat dalam sejarah, ketiga jangan diberi imbalan apapun.” Kemudian Maslamah menyanggupi. Lalu orang bertopeng itu memberitahu bahwa dialah orangnya dan segera setelah itu dia pergi meninggalkan Maslamah. Kisah ketiga tentang Imam Syafi’i yang memesankan kepada murid-muridnya agar janganlah menyebutkan namanya atau menghubungkan satu hurufpun kepada dirinya sebagai penguat argumentasi kebenaran. Maksudnya “ini menurut Imam Syafi’i, ini diambil dari Kitab Al Umm karya Imam Syafi’i.” Bahkan Imam Syafi’i mengatakan saya tidak pernah mendebat seseorang atau berdiskusi dengan seseorang untuk menjatuhkan dia atau untuk mengalahkan dia melainkan saya berharap ketika saya berdiskusi dengannya kebenaran muncul dari dirinya sendiri.
Ikhwan wa akhawat fillah, keinginan kita untuk senantiasa ikhlas hendaknya jangan menjadi penghalang kita untuk menjadi gamang atau takut beramal. Ulama memberikan batasan : “meninggalkan amal karena manusia itu riya, karena takut dilihat orang kemudian tidak mau beramal itu juga riya, sementara beramal untuk manusia itu syirik, dan ikhlas terlepas dari keduanya.” Artinya janganlah karena takut riya kemudian kita enggan beramal. Semestinya terus perbanyak amal tanpa perduli dilihat atau tidak dilihat manusia namun berusahalah untuk tidak terjatuh pada riya.

Ikhwan wa akhawat fillah, ketahuilah bahwa semerbaknya amal dilatarbelakangi oleh keikhlasan. Tersebarluasnya dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah contoh nyata hasil kerja pribadi-pribadi ikhlas. Ketika ruang gerak mereka di negaranya dibatasi mereka mencari ladang lain yang memungkinkan untuk tumbuh suburnya dakwah. Dalam skala kecil,  aktivis-aktivis dakwah yang ikhlas di negeri ini tidak mencukupkan dirinya untuk hanya berkorban menjalankan kerja dakwah di kampus-kampus dan sekolah-sekolah,  namun terus beranjak merambah berbagai kalangan. Masjid-masjid, perkantoran, ibu-ibu arisan, pembantu rumah tangga, pedagang-pedagang dan lain-lain menjadi lahan dan obyek garapan mereka.  Meskipun dalam prakteknya mereka mendapat imbalan berupa ‘pengganti transport’, tapi bisa dipastikan bahwa bukan untuk itu mereka berdakwah. Karena ketika mereka memulai dakwahnya mereka tidak berangkat dari keinginan mencari nafkah lewat jalan itu. Sungguh, walaupun tidak mendapat imbalan mereka akan terus berdakwah di ladang tersebut. Itulah bukti keikhlasan mereka.

Sebagai penutup, Imam Syahid Hasan Al Bana menjelaskan tentang ikhlas dalam rukun bai’ah kedua. “Ikhlas adalah seorang akh muslim dengan perkataannya, amalnya, jihadnya  dan semuanya diniatkan karena Allah swt, mengharapkan ridhaNya dan balasan yang baik tanpa melihat keuntungan maupun penampilan, titel di depan atau dibelakang namanya. Dan dengan demikian dia menjadi prajurit aqidah dan fikrah, bukan prajurit atau pejuang kepentingan dan manfaat.
“Sesungguhnya amal seseorang bergantung pada niat, dan dia akan memperoleh apa yang dia niatkan...” ( Al Hadits)

( Note: taujih ini adalah taujih yang sudah lama sekali, wallahu a'lam siapa ya penulisnya..semoga bermanfaat bagi semua..amin... ^^ )


Rabu, 01 Juni 2011

Cahaya Di Wajah Ummat

KH. RAHMAT ABDULLAH 

 
Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejer-nihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.
Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa beru-saha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan diperce-pat oleh nasabnya ).
Makna tarbiah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-me-nerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ra-tus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.
Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang di-tampilkan untuk ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disem-bunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.
Jangan ada lagi kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempenga-ruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawas-an ilmu, kawasan akhlak, kawasan taqwa, kawasan al-haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader PK, dimanapun dia berada terus menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da’wah ini, tumbuh dari seorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.
Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna, "Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah". Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.
Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk mera-sakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana-pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah senantiasa ber-samanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senanti-asa.
Kehebatan Namrud bagi Nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. ALLAH bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinya-lakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps dengannya dalam menu-naikan tugas pengabdian kepada ALLAH. Alih-alih dari menghanguskannya, justeru ma-lah menjadi "bardan wa salaman" (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang Da’wah sesuai dengan janji-Nya, In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum (Jika kamu meno-long Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkah kamu)
Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat Junud Da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.
Disanalah kita mentarbiah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alqur-an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin. []

Kamis, 26 Mei 2011

Menyongsong Mihwar Daulah

Ada empat mihwar yang harus dilalui dakwah ini untuk mewujudkan visi yang dicita-citakannya; mihwar tandzimi, mihwar sya'bi, mihwar muassasi, dan mihwar daulah. Mihwar Daulah ditandai dengan penetrasi dakwah ke pemerintahan dan lembaga-lembaga negara. Dakwah pada mihwar ini, dengan demikian, mampu mempengaruhi dan mengelola negara sehingga kebijakan-kebijakannya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pada akhirnya, rakyatlah yang akan merasakan keadilan dan kesejahteraan dari negara yang kita cintai bersama.

Jika mihwar tandzimi berkonsentrasi pada pencetakan dan pembentukan kader sebagai basis operasional dakwah; mihwar sya'bi mulai memunculkan kader-kader dakwah untuk berperan di ranah publik membentuk basis sosial, mengintensifkan kegiatan dakwah 'ammah dan membentuk wajihah-wajihah; lalu mihwar muassasi mempertemukan dakwah dengan kegiatan dan kelembagaan politik serta penetrasi dakwah parlemen; maka mihwar daulah mendapatkan pekerjaan baru untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin negara, blue print pemerintahan, regulasi dan perundang-undangan, serta pengelolaan negara. Sebagai konsekuensinya, beban dakwah yang semakin berat dan ranah kerja dakwah yang semakin luas ini membutuhkan persiapan-persiapan yang lebih besar dari pada mihwar-mihwar sebelumnya.

Untuk mendukung persiapan-persiapan itulah buku Menyongsong Mihwar Daulah ini ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan. Maka, selain mengupas empat mihwar di atas –dengan terlebih dahulu diawali tulisan tentang dakwah, kewajiban, tujuan, metode, sampai aspek pertumbuhannya- hampir separuh buku ini berisi persiapan-persiapan aktivis dakwah dalam menyongsong mihwar daulah.

Persiapan itu dikelompokkan penulis menjadi 6 bagian; persiapan ruhani (ruhiyah), persiapan karakter (muwashafat), persiapan intelektual (fikriyah), persiapan fisik (jasadiyah), persiapan kompetensi (kafa'ah), serta persiapan materi (maaliyah).

Persiapan ruhiyah bersumber dari aqidah Islam, dan ia menjadi rahasia kekuatan Islam! Dengan persiapan ruhiyah tumbuhlah keyakinan yang kokoh dan terbentuklah sifat rabbaniyah. Dengan mengambil metode dakwah fase Makkiyah, persiapan ruhiyah ini harus diawali dari pembinaan aqidah yang benar lalu diikuti dengan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

Diantara parameter persiapan ruhiyah yang benar dalam menyongsong mihwar daulah adalah terbebasnya kader dari gejala kekeringan ruhaniyah, yaitu mudah dilanda kejenuhan dan kemalasan, mudah emosi dan tersinggung, mudah kecewa dan putus asa, serta mudah mengeluh dan meratapi kondisi.

Persiapan muwashafat mengharuskan kita untuk lebih serius dalam aktifitas tarbiyah. Persiapan muwashafat tidak lain adalah penyiapan kader dakwah melalui tarbiyah agar memiliki 10 muwashafat yang telah banyak kita hafal bersama; salimul aqidah (aqidah yang selamat), shahihul ibadah (ibadah yang benar), matinul khuluq (akhlak yang mulia), qadirun alal kasbi (berdaya secara ekonomi), mutsaqqaful fikri (wawasan yang luas), qawiyyul jismi (fisik yang sehat), mujaahidun linafsihi (memerangi nafsunya sendiri), munazhzhamun fi syu'unihi (teratur dalam segala urusannya), hariitsun ala waqtihi (manajemen waktu yang baik), dan nafi'un li ghairihi (bermanfaat bagi sesama).

Sebenarnya 10 muwashafat ini sudah menyangkut persiapan-persiapan lainnya seperti persiapan fikriyah, jasaadiyah, dan maaliyah. Namun penulis (Ust. Cahyadi Takariawan) hendak membahasnya lebih detail dan memberikan penekanan yang lebih. Karenanya persiapan-persiapan itu dibahas lebih lanjut.

Persiapan fikriyah dalam menyongsong mihwar daulah mengharuskan seorang kader untuk memiliki pengetahuan Islam secara lengkap dan pengetahuan modern sekaligus. Pengetahuan Islam yang dimaksud adalah penguasaan atas ilmu ushul ats-tsalatsah (tiga ma'rifat tentang Allah SWT, Ar-Rasul, dan Al-Islam), Al-Qur'an (kandungan dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya), As-Sunnah (kandungan dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya), ushul fiqih, aqidah, akhlak, dan fiqih, sirah nabawiyah dan tarikh umat Islam, ilmu bahasa Arab, sistem musuh dalam deislamisasi, studi Islam modern, serta fiqih dakwah.

Secara jamaah, pengetahuan modern harus dikuasai di semua bidangnya. Harus ada kader yang menguasai satu spesialisasi ilmu, sementara spesialisasi lain dikuasi oleh kader lainnya. Dengan demikian, ilmu yang dibutuhkan dalam pelayanan publik termasuk keahlian praktis dan keprofesian, pengelolaan negara dan teknologi, semuanya harus dimiliki. Sementara secara personal, kader dakwah harus menguasai ilmu yang menjadi profesinya serta memiliki pengetahuan umum di luar spesialisasinya.

Persiapan jasadiyah juga sangat diperlukan dalam mihwar daulah. Aktifitas yang semakin padat, baik amal tarbawi, amal mihani, maupun amal siyasi mutlak memerlukan kesiapan fisik yang prima. Maka, kebiasaan hidup sehat dan olahraga secara teratur menjadi kunci suksesnya persiapan jasadiyah ini.

Persiapan kompetensi mutlak diperlukan karena saat memasuki mihwar daulah, dakwah membutuhkan banyak SDM untuk memasuki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Persiapan ini perlu dimulai dari pemetaan posisi strategis yang akan dikelola dan bagaimana kompetensi SDM yang diperlukannya. Selanjutnya, kader dengan kompetensi yang tepat-lah yang ditempatkan pada posisi strategis yang tepat.

Persiapan maliyah diperlukan dalam mihwar daulah, bahkan lebih besar dari mihwar sebelumnya. Ia diperlukan dalam skala individu dan kolektif. Maka kekuatan maaliyah ini harus dipupuk dengan aktifitas usaha sedini mungkin.

Mihwar daulah, selain membutuhkan enam persiapan di atas, juga membutuhkan keseimbangan peran antara ikhwan dan akhwat. Karenanya Ust. Cahyadi Takariawan membuat bab tersendiri yang membahas peran akhawat muslimah dalam dakwah. Selain mengemukakan penghargaan Islam kepada perempuan, peran akhawat muslimah di zaman keemasan Islam juga peran akhawat dalam gerakan dakwah modern. Mengakhiri bab terakhir ini, Ust. Cahyadi Takariawan menuliskan pedoman umum keterlibatan akhawat. Pertama, kesadaran dan partisipasi sosial politik. Kedua, fardhu kifayah dalam berperan di bidang sosial politik. Ketiga, peran dalam pendidikan sosial dan politik, utamanya di ranah tanggung jawabnya baik lingkungan keluarga atau pun lainnya.

Buku ini memang tidak membahas secara detail bagaimana metode dan langkah praktis persiapan-persiapan menyongsong mihwar daulah, karena ia memang menjadi urusan internal tarbiyah. Artinya, sasaran-sasaran yang dijelaskan dalam persiapan menyongsong mihwar daulah di buku ini akan dicapai dengan aktifitas tarbiyah dengan segala manhaj dan wasaail–nya. Sehingga jika pembaca menginginkan dirinya mampu memenuhi persiapan-persiapan itu tidak ada jalan lain kecuali bergabung dalam tarbiyah dan istiqamah di dalamnya. Satu harapan kita, semoga buku ini –sebagaimana promosinya di majalah tarbawi dan media lain- menjadikan kader lebih cerdas dan siap menyongsong mihwar daulah! Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

>> tertarik dengan bukunya ...bisa pesan di "Pustaka Wafi" loh.. ^o^

Selasa, 24 Mei 2011

Prajurit Yang Siap Di Pos Tugas


oleh DH. Al Yusni

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA. bahwa kaum muslimin agak galau ketika mendengar Kaisar Heraklius dan Syurahbil bin Amr mengerahkan 200.000 tentara guna menghalau kedatangan kaum muslimin ke Romawi. Sedangkan kaum muslimin waktu itu berjumlah 3000 tentara. Kaum muslimin kemudian merundingkan apa yang seharusnya mereka lakukan. Beberapa orang di antaranya berpendapat, ‘Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah SAW. melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan’. Akan tetapi Abdullah bin Rawahah RA. tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapannya yang berapi-api.
‘Hai saudara-saudara, kenapa kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini. Kita tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan akan tetapi semata-mata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah SWT. kepada kita. Karena itu majulah. Tidak ada pilihan lain kecuali salah satu dari dua kebajikan, Menang atau Mati syahid!’.
Akhirnya bertemulah kedua pasukan itu di Kirk. Dari segi personil dan sarana, kekuatan musuh jauh lebih besar dari pada kekuatan kaum muslimin. Panglima Zaid bin Haritsah RA. bersama kaum muslimin bertempur menghadapi musuh hingga ia gugur. Kemudian Ja’far bin Abi Thalib mengambil alih panji peperangan. Ia maju menerjang barisan musuh seraya bersyair:
‘Alangkah dekatnya syurga!
Harumnya semerbak dan segar minumannya
Kita hujamkan siksa ke atas orang-orang Romawi
Yang kafir durjana nun jauh nasabnya
Pastilah aku yang memeranginya’
Ja’far RA. terus maju bertempur sampai ia tertebas musuh yang memotong tubuhnya menjadi dua. Di tubuhnya terdapat lima puluh tusukan dan semuanya di bagian depan. Kemudian panji diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah RA. Ia memimpin pertempuran sambil bersyair:
‘Wahai jiwa,engkau harus terjun
Dengan suka atau terpaksa
Musuh-musuh telah maju ke medan laga
Tidakkah engkau rindukan syurga
Telah lama engkau hidup tenang
Engkau hanya setetes air yang hina’
Ia pun terus maju hingga gugur sebagai syahid. Lalu kaum muslimin sepakat untuk mengangkat Khalid bin Walid RA. sebagai panglima perang. Pada saat itulah Khalid RA. mengambil langkah strategis mengatur posisi pasukannya bergantian. Yang tadinya berada pada sayap kanan diubah posisinya di sayap kiri begitu pula sebaliknya, untuk mengesankan bahwa kaum muslimin mendapatkan bala bantuan. Khalid RA. mengingatkan agar mereka berada pada posisinya masing-masing. Kemudian mereka menyerang Romawi dan berhasil memukul mundur akan tetapi Khalid RA. tidak mengejar mereka. Dan kaum muslimin kembali ke Madinah.
Akan tetapi masyarakat di Madinah menganggap bahwa mereka lari meninggalkan musuh. Lari dari jalan Allah. Namun Rasulullah SAW. membantah komentar masyarakat Madinah dengan pernyataannya: ‘Mereka tidak lari dari medan perang akan tetapi mereka mundur untuk menyerang kembali, Insya Allah’.
Kesanggupan untuk dimobilisasi
Watak para pahlawan Islam dalam memenangkan dakwah di medan peperangan terletak pada kesanggupan mereka untuk dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai keadaan. Sikap ini secara umum memang merupakan perilaku prajurit sejati. Kesanggupan diri membuat mereka berani maju menghadapi tugas dan amanah dakwah sekalipun berat rasanya. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali kemenangan yang hakiki. Hidup mulia atau mati syahid.
Bagi seorang prajurit yang siap, memikul tugas dan tanggung jawab adalah kemuliaan. Sehingga mereka akan mengerahkan segenap kemampuan untuk tetap berada di garis tugasnya. Berbalik ke belakang sama artinya dengan mewariskan keburukan dan kekalahan. Karena itu mereka berupaya untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Semangat Abdullah bin Rawahah RA. yang berapi-api mampu mengobarkan kepahlawanan para sahabat. Mereka lebih mencintai harumnya syurga dari pada pulang kembali ke Madinah. Padahal mereka harus menghadapi musuh dengan jumlah dan kekuatan yang besar. Kecintaan pada hari akhirat menjadi landasan sikap mereka menyongsong tugas mulia. Dan modal itulah kaum muslimin memenangkan pertarungan dan mewariskan perilaku keimanan yang sebenar-benarnya kepada generasi berikutnya.
Hari yang kita lalui saat ini tampak sangat jelas. Karena jelasnya tugas dan amanah yang mesti kita tunaikan. Bila kita runut tugas itu satu persatu maka akan kita dapati begitu banyak tugas yang menanti kita. Tugas itu sedang antri untuk diselesaikan. Masalahnya adalah siapakah gerangan yang akan menunaikannya. Apalagi jika ditinjau dari waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya maka ia memerlukan kader yang amat banyak.
Dalam situasi dan kondisi yang pelik dimana tugas dan waktu saling berlomba. Maka perilaku kader sejati untuk selalu siap dimobilisasi harus dikedepankan dari pada sikap gamang untuk menunaikannya. Karena kegamangan dalam melaksanakan tugas sering menghambat kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Sikap gamang bagi kader dakwah merupakan batu sandungan yang harus segera disingkirkan. Dan yang perlu dihidupkan adalah sikap untuk selalu sanggup dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai situasi. Selanjutnya menempati pos-pos yang lowong dengan sabar dan disiplin.
Pada jihad siyasi 2004 ini banyak pos-pos dakwah yang perlu diisi dengan segera. Karena waktu dan tugas yang perlu diselesaikan saling mendahului. Kader dakwah mesti tanggap dengan kemampuannya dan pos yang ada. Sehingga bisa segera mengistijabahi tugas-tugas mulia tersebut.
Bersabar berada di pos-pos dakwah
Berada pada pos dakwah terkadang banyak kendala dan cobaan. Baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan. Ini memang ujian dakwah yang diberikan Allah SWT. pada kita untuk menilai sejauh mana tingkat kesabaran dan kesetiaan prajurit sejati pada tugasnya. Serta keberhasilannya dalam menjalankan amanah yang diberikan padanya.
Adakalanya berada pada pos-pos tugas membosankan bahkan menegangkan karena beban yang berat. Namun adakalanya juga menyenangkan karena fasilitas dan pendapatan yang menggiurkan. Tidak jarang kita jumpai orang yang minta dipindahkan ke pos lain karena tidak suka pada tugas yang harus dikerjakan sehari-hari. Ada pula yang minta terus berada pada posnya karena penghasilan dan fasilitas yang ia dapatkan. Akhirnya tugas itu dinilai dari kesenangan material.
Kaum muslimin pernah mengalami pelajaran pahit di medan Uhud. Ini mesti menjadi catatan berharga bagi umat Islam. Tatkala pos-pos tugas itu dinilai dengan pandangan kesenangan material maka berakibat fatal bagi mereka. Sebab pos-pos yang harusnya dijaga dengan sabar dan disiplin, akhirnya ditinggalkan begitu saja. Kekosongan pos tugas itu menjadi peluang musuh untuk mengkocar-kacir barisan kaum muslimin hingga porak poranda. Dan kerugianlah yang diperolehnya.
Padahal Rasululah SAW. mengingatkan mereka dengan komandonya: ‘Berjagalah di pos kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu’. (HR. Bukhari)
Kasus Uhud merupakan ibroh bagi orang-orang beriman. Cukup sekali saja hal itu terjadi. Tidak boleh terulang lagi apalagi sampai berulang-ulang. Oleh karena itu bekal kesabaran dan keteguhan hati perlu terus dipasok jangan sampai berkurang sedikitpun. Panglima Saad bin Abi Waqqas RA. menyerukan pasukan yang akan menghadapi tentara Persia dengan instruksinya: ‘tempati pos kalian dan bersabarlah, karena kesabaran menjadi jalan kemenangan’.
Bagi kader dakwah ketika sudah menempati pos tugasnya ia akan menjaganya dengan baik. Ia tidak akan tergiur sekejappun untuk meninggalkannya. ia juga tidak tergoda oleh kesenangan material yang mengganggunya. Namun ia akan terus berada pada posnya dengan penuh kesabaran. Sebagaimana Sang Junjungan telah mengingatkan bahwa ‘prajurit yang baik adalah bila ditugaskan di bagian belakang maka ia ada di tempatnya. Bila ia ditugaskan di barisan terdepan maka ia pun ada di tempatnya’. (HR. An Nasai).
Siap siaga menyongsong tugas
Bila peluit sang komandan telah dibunyikan berarti tugas-tugas harus segera diselesaikan. Kesiagaan menyongsong tugas menjadi indikasinya. Dari sana kadang menang dan kalah dapat diperkirakan. Mereka yang siap siaga artinya mereka siap menghadapi situasi apapun. Akan tetapi mereka yang lengah berarti mereka akan menjerumuskan dirinya pada jurang kebinasaan.
Kesiagaan kader indikasi kesiapannya untuk bertarung. Tentunya, siap di segala sektor. Kesiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan nafsiyah. Dengan kesiapan yang demikian maka dapat dipetakan kekuatan diri dan musuhnya. Dan seberapa besar kendala yang peluang kemenangan yang akan didapatinya.
Manakala kesiapan itu sudah begitu gamblang di hati kaum muslimin dan kader dakwah secara khusus, maka Allah SWT. yang akan memback upnya. Yang Maha Kuat dan Perkasalah yang akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki kader apabila sudah digerakkan sejak awal.
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Anfal: 17)
Yang menjadi persoalannya adalah apakah kader dakwah saat ini seluruhnya sudah siap siaga menyongsong tugas atau masih asyik termangu dengan kebingungannya. Semuanya kembali pada diri kader masing-masing. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bila kader dakwah belum siap siaga menyongsong tugas jangan berharap hari esok lebih baik dari kemarin.
Sayyid Quthb rahimahullah menjelaskan bahwa generasi qur’ani masa lalu menjadi umat terbaik bukan terletak pada keberadaan Rasul bersama mereka. Melainkan sikap mereka terhadap qur’an dan sikap mereka secara keseluruhan yang siap siaga menerima tugas dan perintah. Bila saat itu disodorkan amanah tugas maka saat itu pula mereka kerjakan tanpa reserve. Nah, kalau begitu sikap mereka itulah yang perlu kita ulang pada diri kita saat ini. Karena tugas dan instruksi komandan untuk jihad siyasi saat ini begitu sangat jelas.
Mundur berarti kekalahan
Bila pertarungan sudah di hadapan hanya satu sikap saja yang dilakukan yaitu maju ke depan. Tidak boleh ada kata mundur atau balik ke belakang. Karena mundur artinya kekalahan. Dan kekalahan adalah kehinaan bagi kader dakwah dunia dan akhirat. Allah SWT. sudah menegaskan: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialahneraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya". (QS. Al Anfal: 15 – 16)
Bagi kader dakwah tugas mulia menjadi jalan mulus untuk masa depan. Ia tidak akan pernah berpikir balik ke belakang. Ia akan maju terus menyongsong masa depan. Begitulah kemenangan kaum muslimin di berbagai tempat, termasuk di Eropa. Panglima Thariq bin Ziyad menyampaikan pidatonya di hadapan para prajurit. ‘Wahai kaum muslimin di belakangmu lautan lepas tidak ada lagi perahu yang akan membawa kalian ke negeri kampung halaman. Dan di depanmu musuh menghadang. Tidak ada pilihan lain untuk kemenangan kecuali maju ke hadapan songsong musuh dengan hati lapang. Sambut tugas dengan ringan’.
Menghadapi kenyataan ini keberanianlah yang perlu kita perbesar. Berani karena benar dan berani karena membawa misi kesucian. Kader pemberani dalam melaksanakan tugas dapat menjadi pintu kegemilangan. Khususnya kegemilangan dakwah di negeri dambaan ini.
Jangan pernah bermaksiyat
Kemenangan dan kekalahan yang dialami kaum muslimin sangat dipengaruhi oleh perbuatan para prajuritnya. Kemaksiyatankah atau ketaatan. Kemaksiyatan dapat menjadi penyebab kekalahan dan ketaatan dapat membawa kemenangan.
Para pemimpin Islam selalu mewasiatkan untuk mewaspadai perilaku kemaksiyatan kadernya. Karena kemaksiyatan yang dilakukan satu orang dapat berakibat buruk bagi yang lainnya. Kemaksiyatan yang dilakukan seorang kader harus lebih ditakuti daripada besarnya jumlah dan kekuatan musuh. Sebab maksiyatan membuat Allah SWT. menjauhi mereka. Dan tidak akan memberikan bala bantuan-Nya.
Catatan hitam dari kasus Uhudpun terjadi lantaran kemaksiyatan sebagian prajurit muslim. Mereka tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW. karena tergiur dengan rampasan perang yang berserakan di depan mereka. Lalu mereka meninggalkan bukit Uhud dan mengumpulkan ghanimah tersebut. Akhirnya pos yang kosong itu segera diambil alih musuh sebagaimana yang diingatkan Allah SWT.
"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman". (QS. Ali Iman: 152)
Cukuplah Uhud menjadi pelajaran besar bagi kita. Satu hal yang perlu dicamkan. Jangan pernah bermaksiyat sedikitpun ketika pertarungan telah di hadapan. Kemaksiyatan lobang jurang kebinasaan dan kehinaan dunia dan akhirat. Wallahu ‘alam bishshawab..

Rabu, 11 Mei 2011

Kemesraan Ukhuwah

Kemesraan ukhuwah dibangun atas tiga hal: saling kenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling berbagi beban (takaful). Ketiganya merupakan pilar ukhuwah yang tak boleh luput dari roda perjalanan da’wah.

Ta’aruf bermula dari pengenalan secara fisik, karakter, kadar keseriusan taqarrub kepada Allah, atau hal-hal lahiriyah lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin itu makhluk yang cepat akrab, maka tidak ada kebaikan pada orang yang tidak cepat akrab dan tak bisa diakrabi.” (HR. Ahmad dan Thabrani).


Ta’aruf yang baik akan meminimalisir kekeringan dan keretakan hubungan sesama muslim. Ia juga dapat membuat hati jadi lembut serta mampu melenyapkan bibit perpecahan. Bila wilayah ta’aruf sudah terbentang, akan tumbuh sikap tafahum. Sikap tafahum akan menjaga kesegaran jama’ah da’wah. Sebab, da’wah diemban oleh orang-orang yang punya  keterpautan hati, saling toleransi, dan saling kompromi untuk hal-hal yang mubah.

Urgensi tafahum akan kian terasa ketika pendukung jamaah da’wah terdiri dari berbagai macam orang, baik suku, budaya maupun bahasanya. Semua karakter kesukuan harus lebur dalam tradisi tafahum dalam ukhuwah. Meski, kedekatan kultur juga bermanfaat bagi kesuksesan da’wah. Imam Malik berkata, “Lihatlah orang dengan kebenaran, dan jangan sebaliknya, engkau lihat kebenaran dengan orang."

Puncak tafahum ada pada tahap “bicara“ pada satu bahasa (at-tahadduts bi lughatin wahidah). Di mana karakter khas mewarnai seluruh aktivis jama’ah da’wah, mereka berpikir dengan pola yang satu, dan berbicara dengan bahasa yang satu.

Siapa yang tak siap dengan konsep tafahum ini akan gagal memasuki tahapan ukhuwah berikutnya, yaitu takaful. Inilah intisari ukhuwwah, yang darinya lahir itsar (mendahulukan sesama saudara), puncak dari segala amal ukhuwah. Takaful tidak mesti bahu membahu dalam memberikan jaminan materi. Ia bisa dalam bentuk bahu membahu menunaikan kerja, saling membela yang dizalimi, bahkan saling mengirim do’a.

Ukhuwah Islamiyah yang benar akan panjang usia, bahkan hingga hari akhirat kelak. “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada. Para nabi dan syuhada iri kepada mereka." Ketika ditanya para sahabat, Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencinta karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi. Wallahu’alam